Arti Lambang Pancasila

Arti Lambang Pancasila
Tahukah arti dari lambang negara Indonesia  - Garuda Pancasila? Lambang ini adalah hasil karya Sultan Hamid II. Lambang negara Indonesia berupa burung rajawali garuda pancasila. Burung  berwarna emas ini mengalungi perisai yang bergambar lima sila. Di bagian tengah terdapat garis tebal yang melambangkan garis khatulistiwa. Indonesia memang dilalui garis khatulistiwa. Burung ini juga mencengkram pita putih yang bertuliskan semboyan negara bhinneka tunggal ika yang bermakna berbeda-beda namun tetap satu jua.

Lambang negara Indonesia ini pertama kali diresmikan pada sidang kabinet RIS pada 11 Februari 1950. Garuda pancasila dijadikan lambang negara setelah melalui seleksi yang dilakukan panitia lencana negara. Paniti inilah yang bertugas menyeleksi usulan lambang negara untuk diajukan kepada Presiden.

Usulan garuda sebagai lambang negara diajukan oleh Sultan Hamid II dari Pontianak. Burung garuda adalah burung yang kuat, mandiri, dan percaya diri. Burung ini sangat energik dan dinamis. Ia adalah penguasa angkasa yang menjadi wilayahnya. Akan tetapi burung ini tetap menghargai wilayah kekuasaan yang bukan miliknya. Burung garuda(elang) ini juga memiliki umur yang panjang. Namun dia harus berjuang untuk berhasil melewati masa sulit tersebut.

Burung garuda banyak muncul dalam mitologi jawa dan bali. Buring ini melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan disiplin. Burung ini adalah kendaraan dari dewa wishnu. Sebagai kendaraan dewa wishnu,Garuda juga memiliki sifat Wishnu sebagai pemelihara dan penjaga tatanan alam semesta.

Arti Lambang Pancasila

Warna emas dari lambang negara garuda melambangkan  keagungan dan kejayaan. Bentuk paruh, ekor, sayap, dan cakar yang kokoh melambangkan kekuatan & tenaga pembangun. Jumlah pada masing-masing bagian melambangkan hari proklamasi kemerdekaan indonesia:

  • 17 helai pada masing-masing sayap
  • 8 helai pada ekor
  • 45 helai pada leher
menjadikan angkanya seperti tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Perisai
Di bagian dada burung garuda terdapat perisai. Perisai telah dikenal lama dalam peradaban masyarakat di Indonesia sebagai senjata perlindungan, pertahanan, untuk mencapai tujuan. Di bagian tengah terdapat garis hitam tebal yang melambangkan garis khatulistiwa yang melalui Indonesia. Warna dasar perisai adalah merah-putih yang melambangkan keberanian dan kesucian serta warna hitam yang menyerupai bentuk jantung di bagian tengah. 


  1. Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa dilambangkan dengan cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima berlatar hitam
  2. Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dilambangkan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai berlatar merah
  3. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia dilambangkan dengan pohon beringin di bagian kiri atas perisai berlatar putih
  4. Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan atas perisai berlatar merah dan
  5. Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih.
Kaki garuda mencengkram pita putih bertuliskan semboyan negara Bhinneka tunggal ika yang berarti berbeda-beda namun tetap satu jua. Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman yang tinggi, sehingga perlu memiliki semboyan yang menyatukan Indonesia.

Baca Juga tentang Pengertian Pancasila di > PENGERTIAN PANCASILA

Sejarah Garuda Pancasila Lambang Negara Indonesia

Sudahkah anda tahu siapa pembuat lambang garuda pancasila dasar negara Indonesia? Burung garuda berperisai itu merupakan buah karya salah seorang putera bangsa yang mampu menuangkan butir-butir pancasila dalam bentuk yang lebih nyata.

Beliau adalah Sultan Hamid II(Syarif Abdul Hamid Alkadrie). Beliau adalah putra dari Sultan Pontianak. Sultan Hamid II lahir di Pontianak, 12 Juli 1913. Beliau menikah dengan seorang perempuan Belanda dan dikaruniai dua anak. Sultan Hamid II wafat 30 Maret 1978.

Burung Garuda banyak muncul di berbagai kisah terutama di Jawa dan Bali. Garuda melambangkan  pengetahuan, kebajikan, keberanian, kekuatan, kesetiaan, dan disiplin. Garuda juga memiliki sifat Wishnu(salah satu dewa dalam hindu) sebagai pemelihara dan juga penjaga tatanan alam semesta. Oleh karena garuda melambangkan sesuatu yang baik inilah burung garuda dijadikan simbol nasional Indonesia.


Lahirnya Garuda Pancasila
Setelah masa perang kemerdekaan dan masa mempertahankan kedaulatan, Indonesia dirasa perlu memiliki lambang negara yang dapat merepresentasikan negara. Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II yang ditugaskan Presiden Soekarno untuk merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara; dengan susunan panitia teknis : Muhammad Yamin sebagai ketua, dan beranggotakan Ki Hajar Dewantara, M A Pellaupessy, Moh Natsir dan RM Ng Poerbatjaraka; yang bertugas menyeleksi usulan lambang negara yang diusulkan kepada pemerintah.

Setelah sayembara tersebut diadakan, terpilih dua usulan yaitu dari M.Yamin dan Sultan Hamid II.
Kemudian Usulan Sultan Hamid II yang diterima oleh pemerintah dan DPR. Usulan dari M.Yamin ditolak karena mengandung unsur sinar matahari yang masih terpengaruh dari Jepang.
Usulan Sultan Hamid II diterima karena sesuai dengan apa yang dikehendaki Presiden Soekarno bahwa lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Setelah rancangan terpilih, komunikasi intensif antara Sultan Hamid II, Bung Hatta, dan Ir.Soekarno terus dilakukan untuk penyempurnaan. Mereka sepakat untuk mengganti pita yang dicengkeram, semula berwarna merah putih menjadi putih penuh dengan semboyan bhineka tunggal ika.

Tanggal 8 Februari 1950 usulan tersebut diajukan kepada Presiden Soekarno. Usulan tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi agar dipertimbangkan kembali keberatan terhadap penggunaan simbol manusia yang dianggap sangat bersifat mitologis.

rancangan garuda pancasila lambang negara indonesia

Setelah dilakukan perubahan, Sultan Hamid II kembali mengajukan usulan yang baru berdasarkan berbagai masukan. Usulan yang baru ini sudah berwujud burung rajawali garuda pancasila. Usulan tersebut diserahkan Presiden Soekarno kepada Kabinet RIS melalui PM Moh.Hatta. Pada sidang kabinet tanggal 11 Februari 1950 lambang negara ini diresmikan. Garuda versi ini belum memiliki jambul seperti sekarang.



Presiden Soekarno memperbaiki beberapa hal seperti menambahkan jambul agar tidak terlalu mirim dengan bald eagel USA, merubah cengkraman pada pita dari menghadap ke belakang menjadi menghadap depan. Terakhir, Sultan Hamid II membuat skala ukuran dan tata warna.

gambar garuda pancasila


Baca juga pengertian pancasila> Pengertian Pancasila

Pengertian Wawasan Nusantara

Pengertian Wawasan Nusantara
Wawasan nunsantara berasal dari dua kata yaitu wawas yang berarti pandangan, tinjauan, penglihatan inderawi. Kata mawas berarti memandang, meninjau, melihat. Kata wawasan berarti cara melihat, cara meninjau, atau cara memandang.
Nusantara berasal dari kata nusa yang berarti pulau dan antara yang berarti diantara(dua samudera dan dua benua).
Wawasan nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan bentuk geografinya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pengertian Wawasan Nusantara - berdasarkan ketetapan MPR tahun 1993 dan 1998 tentang GBHN:




  • wawasan nusantara yang merupakan wawasan nasional yang bersumber pada pancasila dan berdasarkan UUD 1945 adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.

Pengertian Bangsa - Menurut Umum dan Ahli

Bangsa adalah kumpulan dari masyarakat yang membentuk negara, yang dalam arti sosiologis termasuk kelompok paguyuban yang secara kodrat ditakdirkan hidup bersama dan senasib sepenanggungan di dalam suatu negara seperti Negara Republik Indonesia yang ditakdirkan terdiri dari berbagai suku bangsa. Budiyanto dalam Suhady dan Sinaga (2006) mengemukakan pendapat beberapa pakar kenegaraan tentang Pengertian Bangsa sebagai berikut:


Pengertian Bangsa

NAMA PROGRAM DIKLAT NOMOR KODE DIKLAT DESKRIPSI SINGKAT Penyegaran Dibidang Penilaian Usaha Maksud dan tujuan diajarkannya mata diklat ini adalah agar peserta diklat dapat menerapkan kompetensi sebagai penilai dengan menerapkan aplikasi penilaian usaha dalam menyelesaikan Kasus dan penyusunan laporan penilaian usaha atas suatu Proposal Usaha NAMA MATA PELAJARAN Kasus dan Penyusunan Laporan Penilaian Usaha 7 Pengertian Bangsa TUJUAN PROGRAM DIKLAT JUMLAH JAMLAT STANDAR KOMPETENSI Setelah mengikuti mata diklat ini, peserta diharapkan mampu menerapkan aplikasi penilaian usaha dalam menyelesaikan Kasus dan penyusunan laporan penilaian usaha atas suatu Proposal Usaha 9 Jamlat ; @ 45 menit Setelah mengikuti diklat ini peserta diharapkan mampu menerapkan kompetensi sebagai penilai dalam mendukung tugas dan fungsi organisasi dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku PRAKTEK Metode Pembelajaran Media Pembelajaran TEORI Metode Pembelajaran Media Pembelajaran No KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PENCAPAIAN POKOK BAHASAN SUB POKOK BAHASAN Waktu Waktu Setelah selesai mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu: Setelah selesai mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu: Menunjukkan aplikasi penilaian usaha dalam menyelesaikan Kasus dan penyusunan laporan penilaian usaha atas atas suatu Proposal Mandiri dan Menara BTS Menunjukkan konsep penilaian tanah atas perhitungan sewa yang menggunakan formula tarip sewa a. Mencari data pembanding harga tanah b. Menentukan unsur pembanding harga tanah c. Melakukan penyesuaian nilai tanah 4 Ceramah Tanya Jawab Referensi LCD White board Flipchart Menggunakan 45 0 konsep penilaian tanah atas perhitungan sewa yang menggunakan formula tarip sewa penilaian tanah atas perhitungan sewa yang menggunakan formula tarip sewa Menunjukkan konsep penilaian sewa tanah ujntuk Billboard a. Mencari data pembanding sewa kantin b. Menentukan unsur pembanding sewa kantin c. Melakukan penyesuaian Penyegaran Dibidang Penilaian Usaha Maksud dan tujuan diajarkannya mata diklat ini adalah agar peserta diklat dapat menerapkan kompetensi sebagai Penilai dengan melaksanakan penilaian sewa NAMA MATA PELAJARAN Penilaian Sewa 6 TUJUAN PROGRAM DIKLAT Pengertian Bangsa JUMLAH JAMLAT STANDAR KOMPETENSI Setelah mengikuti mata diklat ini, peserta diharapkan mampu melaksanakan penilaian sewa dengan benar sesuai ketentuan yang berlaku 5 Jamlat ; @ 45 menit PRAKTEK Metode Pembelajaran Media Pembelajaran TEORI Metode Pembelajaran Media Pembelajaran No KOMPETENSI DASAR INDIKATOR PENCAPAIAN POKOK BAHASAN SUB POKOK BAHASAN Waktu Waktu Setelah selesai mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu: Setelah selesai mengikuti pembelajaran ini peserta diklat diharapkan mampu: Menunjukkan konsep penilaian ruang sewa kantor a. Mencari data pembanding sewa kantor b. Menentukan unsur pembanding sewa kantor c. Melakukan penyesuaian nilai indikasi sewa kantor 1 Ceramah Tanya Jawab Referensi LCD White board Flipchart Menggunakan 45 0 konsep penilaian ruang sewa kantor Penilaian Ruang Sewa Kantor Menunjukkan konsep penilaian ruang koperasi, minimarket dan kantin a. Mencari data pembanding sewa koperasi , minimarket dan kantin b. Menentukan unsur pembanding sewa koperasi , minimarket dan kantin c. Melakukan penyesuaian nilai indikasi sewa koperasi , minimarket dan kantin 2 Ceramah Tanya Jawab Referensi LCD White board FlipchartPengertian Bangsa Menggunakan 45 0 konsep penilaian sewa koperasi, minimarket dan kantin Penilaian Ruang Sewa koperasi, minimarket dan kantin Menunjukkan konsep penilaian ruang sewa ATM a. Mencari data pembanding sewa ATM Mandiri dan Menara BTS 3 Ceramah Tanya Seluruh proses belajar mengajar dilaksanakan secara terjadwal dengan menggunakan metode andragogi, yaitu metode belajar bagi orang dewasa. Penggunaan metode ini akan menciptakan suatu hubungan diagonal antara pengajar dengan peserta dan antar sesama peserta. Untuk tercapainya tujuan proses belajar mengajar tersebut dilaksanakan dengan metode antara lain: 1. Ceramah; 2. Tanya jawab; 3. Diskusi; 4. Simulasi; 5. Latihan; 6. Studi kasus. B. Kurikulum Kurikulum DTSS Penilaian Bisnis Dasar terdiri dari 103 jamlat (9 Mata Diklat Pokok dan 4 Mata Diklat Penunjang), Ceramah 8 jamlat, dan PKL (Studi Kasus) 24 jamlat, sehingga total 135 jamlat (1 jamlat = 45 menit). NO MATA DIKLAT DURASI I Mata Diklat Pokok 1. Konsep Dasar Penilaian Bisnis 5 jamlat 2. Konsep Dasar Keuangan Perusahaan 14 jamlat 3. Konsep Dasar dan Analisis Strategi Bisnis 4 jamlat 4. Analisis Prospek Perusahaan 8 jamlat 5. Analisis Laporan Keuangan 10 jamlat 6. Pendekatan Data Pasar 10 jamlat 7. Pendekatan Pendapatan 10 jamlat 8. Pendekatan Neraca 8 jamlat 9. Laporan Penilaian 6 jamlat Total 75 jamlat II Mata Diklat Penunjang 1. Pengantar Pasar Modal 8 jamlat 2. Hukum Bisnis 5 jamlat 3. Excel for Budgeting and Financial Planning 10 jamlat 4. KEPI dan SPI (Penilaian Bisnis) 5 jamlat Total 28 jamlat III Ceramah 1. Pimpinan 2 jamlat 2. Current Issue 2 jamlat 3. Integritas dan Anti Korupsi 2 jamlat 4. Building Learning Commitment 2 jamlat Total 8 jamlat IV PKL (Studi Kasus) 1. Penulisan 16 jamlat 2. Presentasi 8 jamlatPengertian Bangsa Total 24 jamlat Total Jamlat Keseluruhan 135 jamlat V Evaluasi 1. Ujian tertulis untuk setiap mata diklat pokok 600 menit 2. Mata diklat penunjang yang diujikan: Excel for Budgeting and Financial Planning C. Silabus 1. Konsep Dasar Penilaian Bisnis Maksud dan tujuan diajarkannya mata diklat ini adalah agar peserta diklat mampu menggunakan konsep dasar penilaian bisnis dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku. Metode pembelajaran yang digunakan dalam mata diklat ini adalah ceramah dan tanya jawab. Pokok bahasan: a. Konsep dan penilaian bisnis; b. Pemahaman bisnis atas objek yang dinilai; c. Pendekatan pendapatan; d. Pendekatan data pasar; e. Pendekatan aktiva/neraca; f. Pelaporan hasil penilaian bisnis. 2. Konsep Dasar Keuangan Perusahaan Maksud dan tujuan diajarkannya mata diklat ini adalah agar peserta diklat mampu menggunakan konsep dasar keuangan perusahaan dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku. Metode pembelajaran yang digunakan dalam mata diklat ini adalah ceramah, diskusi dan tanya jawab. Pokok bahasan: a. Struktur keuangan dan struktur modal; b. Risk dan rate of return; c. Future value; d. Present value; e. Konsep capital budgeting. 3. Konsep Dasar dan Analisis Strategi Bisnis Maksud dan tujuan diajarkannya mata diklat ini adalah agar peserta diklat mampu menggunakan konsep dasar dan analisis strategi bisnis dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku. Metode pembelajaran yang digunakan dalam mata diklat ini adalah ceramah, tanya jawab dan simulasi. Pokok bahasan: a. Penciptaan nilai perusahaan; b. Anlisis lingkungan eksternal. 4. Analisis Propspek Perusahaan Maksud dan tujuan diajarkannya mata diklat ini adalah agar peserta diklat mampu menggunakan metode analisis prospek perusahaan dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku. Metode pembelajaran yang digunakan dalam mata diklat ini adalah ceramah, tanya jawab dan simulasi. Pokok bahasan:Pengertian Bangsa. a. Perencanaan dan Pengendalian; b. Nilai perusahaan – two stage model; c. Kunci pemicu nilai; d. Peramalan kinerja perusahaan; e. Proforma financial statement dan proyeksi kebutuhan dana.

Tugu Proklamasi + Gambar

Gambar Tugu Proklamasi
Tugu Proklamasi atau disebut juga Tugu Petir adalah tugu peringatan proklamasi kemerdekaan indonesia.
Tugu Proklamasi terletak di Taman Proklamasi Jl. Proklamasi ( dahulu Jl. Pegangsaan Timur no 56).
Terdapat patung besar Soekarno dan Hatta yang mirip dengan situasi proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Diantara keduanya juga dibuat teks proklamasi yang mirip dengan versi asli dari bahan marmer hitam.

gambar tugu proklamasi
gambar tugu proklamasi

gambar tugu proklamasi

gambar tugu proklamasi


Narasi : Target IKU Q1,Q2, Q3 dan Q4 berubah dikarenakan 1. Adanya perubahan peserta diklat, target awal peserta diklat berasal dari kementrian keuangan namun pada praktiknya peserta diklat ada yang non Kemenetrian keuangan yaitu Diklat Bendahara Pengeluaran Angkatan I, Diklat Belanja PNS Angkatan I dan Diklat PBB dan BPHTB untuk Pemda. 2. Adanya perubahan jadwal diklat dari Pusdiklat PPSDM yang semula bulan Juni (Q2) menjadi bulan Juli (Q3) yaitu diklat Diklat Prajabatan Golongan II Angkatan I dan Angkatan II, seperti daftar di bawah ini (yang berwarna agak tebal), 3. Adanya pemanfaatan sisa dana diklat yang direncanakan pelaksanaanya pada Q4, yaitu diklat Pengadaan Barang dan Jasa. Sehingga Target Presentase jam pelatihan terhadap jam kerja Kementrian Keuangan 0,0030 + 0,0112 + 0,0105 + 0,0023 = 0,0271. Target awal 0,0353 % (dimana peserta diklat berasal dari kementrian keuangan). sehingga ada selisih 0,078 % yaitu 1. Peserta dari Non Kementrian Keuangan pada tabel bertanda *), - Peserta Diklat Bendahara Pengeluaran Angkatan I sebanyak 36 Orang. - Peserta diklat Belanja Pengelolaan PNS Angk. I sebanyak 27 orang. - Peserta diklat PBB untuk pemda sebanyak 30 orang. 2. Peserta kurang dari target awal yang dikarenakan tidak hadir ketika Diklat berlangsung - Diklat DUD 30 orang realisasi 17, kurang 13 orang - Diklat UPKP 30 orang realisasi 19, kurang 11 orang - Diklat Penyegaran PBJ 50 orang, realisasi 37, kurang 13 orang Target IKU Q1,Q2, Q3 dan Q4 berubah dikarenakan 1. Adanya perubahan peserta diklat, target awal peserta diklat berasal dari kementrian keuangan namun pada praktiknya peserta diklat ada yang non Kemenetrian keuangan yaitu Diklat Bendahara Pengeluaran Angkatan I, Diklat Belanja PNS Angkatan I dan Diklat PBB dan BPHTB untuk Pemda. 2. Adanya perubahan jadwal diklat dari Pusdiklat PPSDM yang semula bulan Juni (Q2) menjadi bulan Juli (Q3) yaitu diklat Diklat Prajabatan Golongan II Angkatan I dan Angkatan II, seperti daftar di bawah ini (yang berwarna agak tebal), 3. Adanya pemanfaatan sisa dana diklat yang direncanakan pelaksanaanya pada Q4, yaitu diklat Pengadaan Barang dan Jasa Target Jumlah seluruh peserta diklat kementrian keuangan 47 + 452 + 130+ 30 = 659 orang. Target awal 790 orang sehingga ada selisih 131 orang yaitu 1. Peserta dari Non Kementrian Keuangan (pada tabel bertanda ‘*)’ - Peserta Diklat Bendahara Pengeluaran Angkatan I sebanyak 36 Orang. - Peserta diklat Belanja Pengelolaan PNS Angk. I sebanyak 27 orang. - Peserta diklat PBB untuk pemda sebanyak 30 orang. 2. Peserta kurang dari target awal yang dikarenakan tidak hadir ketika Diklat berlangsung - Diklat DUD 30 orang realisasi 17, kurang 13 orang - Diklat UPKP 30 orang realisasi 19, kurang 11 orang - Diklat PBJ 50 orang, realisasi 37, kurang 13 orang Narasi : Target IKU Q2 dan Q3 berubah Kerjasama diklat untuk q2 sudah berjalan sejumlah 1 diklat yaitu Diklat PBJ bekerjasama dengan POLDA SULUT, sedangkan satu kerjasama lagi tidak berjalan dikarenakan diklat PPAKP yang berasal dari Sekretariat Jenderal tidak ada Target IKU Q1,Q2,Q3 berubah Adanya peserta diklat yang berasal dari Non kementrian Keuangan yaitu Peserta dari Non Kementrian Keuangan (pada tabel bertanda ‘*)’ - Peserta Diklat Bendahara Pengeluaran Angkatan I sebanyak 36 Orang. - Peserta diklat Belanja Pengelolaan PNS Angk. I sebanyak 27 orang. - Peserta diklat PBB untuk pemda sebanyak 30 orang. - Peserta diklat dari Polda Sulut sebanyak 100 orang. - Peserta diklat PBJ 30 orang (menggunakan sisa dana).

Pakaian Adat Bali dan Filosofinya

Pakaian adat Bali merupakan salah satu pakaian adat yang unik dan bervariasi. Pakaian adat bali memiliki keagungan dan citra tersendiri. Dari pakaian adat yang dikenakan, dapat diketahui status ekonomi dan perkawinannya.

Pakaian adat bali dikenakan oleh laki-laki dan perempuan. Setidaknya terdapat tiga jenis pakaian adat yang biasa dikenakan masyarakat Bali. Pertama, pakaian untuk acara keagamaan. Kedua, pakaian untuk acara perkawinan. Ketiga, pakaian untuk sehari-hari. 


Contohnya pemakaian sanggul oleh perempuan Bali ketika ke pura. Remaja putri memakai sanggul/pusung gonjer sendangkan perempuan dewasa yang sudah menikah mengenakan sanggul/pusung tagel.
Pakaian Adat Bali

Pakaian adat Bali yang paling mewah adalah Busana Agung. Pakaian ini biasanya dikenakan saat rangkaian acara potong gigi atau perkawinan. Pakaian Adat Bali
Ada beberapa variasi dari Busana Agung dilihat dari tempat, waktu, dan keadaan. Kain yang digunakan dalam pakain adat Bali yang satu ini adalah wastra wali khusus untuk upacara atau wastra putih sebagai simbol kesucian. Tapi, tak jarang pula kain dalam pakaian adat Bali ini diganti dengan kain songket yang sangat pas untuk mewakili kemewahan atau prestise bagi pemakainya.

Sedangkan untuk kaum laki-laki Bali selain mengenakan kain tersebut sebagai pakaian adat Bali mereka juga mengenakan kampuh gelagan atau biasa disebut dodot yang dipakai hingga menutupi dada.

Sementara, perempuan Bali sebelum mengenakan Busana Agung biasanya menggunakan kain lapis dalam yang disebut sinjang atau tapih untuk mengatur langkah wanita agar terlihat anggun.

Pakaian adat Bali selain mempunyai nilai keindahan, tapi di dalamnya juga tersimpan nilai – nilai  filosofis dan simbolik yang tersembunyi dalam bentuk, fungsi, serta maknanya. Itulah sebabnya dalam pakaian adat Bali dihiasi oleh berbagai ornamen dan simbol yang mempunyai arti tersindiri.



Kelengkapan Pakaian Adat Bali
Kelengkapan pakaian adat Bali terdiri dari beberapa item. Item tersebut antara lain kamen untuk pria, songket untuk pria dan wanita, udeng untuk pria dan sanggul lengkap dengan tiaranya untuk wanita. Disamping itu laki-laki Bali menyematkan keris, sedangkan wanita membawa kipas sebagai pelengkapnya.


Pakaian adat Bali memiliki nilai filosofi yang dalam. Filosofi pakaian adat Bali dalam hampir sama dengan kebanyakan pakaian adat daerah lain dalam beberapa hal, akan tetapi karena Bali juga merupakan salah satu tempat yang sudah mendunia dan disakralkan, maka filosofi pakaian adat Bali kini menjadi penting dalam eksistensinya. Pakaian adat Bali mempunyai standardisasi dalam kelengkapannya.

Pakaian adat Bali lengkap umumnya dipakai pada upacara adat/keagamaan atau upacara perayaan besar. Sedangkan pakaian adat madya dipakai saat melaksanakan ritual sembahyang harian atau saat menghadiri acara yang menggembirakan seperti contohnya ketika pesta kelahiran anak, kelulusan anak, sukses memperoleh panen, atau penyambutan tamu.

Filosofi pakaian adat Bali pada dasarnya bersumber pada ajaran Sang Hyang Widhi, yakni Tuhan yang diyakini memberikan keteduhan, kedamaian dan kegembiraan bagi umat Hindu yang mempercayainya.

Setiap daerah memiliki ornamen berbeda yang memiliki arti simbolis dalam pakaian adatnya masing-masing. Meskipun demikian, pakaian adat Bali pada dasarnya adalah sama, yakni kepatuhan terhadap Sang Hyang Widhi. Pakaian ini juga seringkali dipakai untuk membedakan tingkat kasta, yang merupakan buatan manusia itu sendiri. Di hadapan Maha Pencipta, manusia semua adalah sama derajatnya. Selain sebagai wujud penghormatan kepada sang pencipta, pakaian adat Bali merupakan suatu bentuk penghormatan kepada pengunjung/tamu yang datang. Ini adalah sesuatu yang umum, mengingat jika anda sebagai tamu maka akan merasa terhormat jika disambut oleh pemilik rumah yang berpakaian bagus dan rapi.

Masukan Email Anda untuk memperoleh artikel bermanfaat lainnya:

Ayo Bergabung dengan teman-teman di Google + Sekarang Juga...

Pembaca Cerdas, Silakan tinggalkan jejak komentar anda..